Sabtu, 07 Januari 2012

Tentangnya

Hari ini bertepatan dengan 7 Januari 2012. Yaa, bertepatan pula 7 Januari 1995 lalu, lahirlah seorang bayi laki-laki yang diberi nama Fauzan Ditiaharman. Mungkin kalian sudah bisa menduga dia siapa, dari nama belakang kami yang sama juga sudah ketahuan, hehe. Dialah adik keduaku, dia biasa dipanggil Ucan. Yaa, hari ini usianya 17 tahun. Aku hanya bisa memberi ucapan via sms dan facebook karena aku dan dia berada di pulau yang berbeda saat ini.

Ucan adalah adikku yang bisa dibilang dia tidak seperti adik laki-laki kebanyakan karena dia lebih suka di rumah (anak rumahan). Dia selalu membanggakan dengan prestasinya yang acapkali juara pertama di kelas. Kami dilahirkan dalam keluarga sederhana oleh seorang ibu perkasa, Dra. Maihardiati, yang tak kenal lelah menjaga, mendidik, dan menanamkan akhlaq kepada anak-anaknya seorang diri karena dari aku menginjak kelas 2 SD, ayahku, Fry Harman, B.Sc, mutasi ke berbagai kota dan pulang antara 2-3 bulan sekali dan hanya satu atau dua minggu saja berada di rumah. Aku adalah anak pertama dari empat bersaudara. Lumayan banyak juga yaa.. hehe.. Adikku yang pertama, Ifanhar Ditiaharman dan adikku yang ketiga, Ririndia Ditiaharman.

Semenjak Agustus 2009, aku sudah tidak berada di Palembang lagi, kota asalku. Aku berkuliah di Bandung yang membuat aku harus kuat untuk menjadi anak rantau. Hal tersedih yang ku rasakan adalah saat mama mengantarku menempati tempat kos baru dan membelikanku berbagai perlengkapan kamar kos, lalu tak lama mama harus pergi meninggalkanku sendiri menjadi perantauan di tanah Sunda ini. Sedihnya, mama pulang hanya dua hari menjelang Ramadhan. Itulah hal tersedih yang ku rasa, biasanya Ramadhan tak begitu terasa berat bagiku, tapi tahun 2009 begitu berat rasanya. Sahur pertama yang ku lalui dengan derai air mata yang tak kuasa ku bendung tak terasa mengalir dengan derasnya dan hatiku terasa sesak. Sesak sekali. Namun hari-hari berikutnya dapat ku lewati hingga detik ini.

Walaupun begitu, aku jarang menghubungi keluargaku via telepon, lebih sering via sms. Bukan karena aku tak menyanyangi mereka atau aku tak peduli dengan mereka, bukan. Aku melakukan itu karena setiap kali aku menelepon mereka, aku takkan pernah bisa menahan air mataku untuk jatuh membasahi pipi ini. Sering sekali aku berkata dalam hati, please.. Jangan keluarlah.. Kau kuat kok mut! Tapi aku tak berdaya. Tapi sebenarnya, aku sangat menyayangi dan mencintai kalian semua keluargaku karena Alloh. (^.^)

                                                          Adikku Sayang


                                                                         Aku dewasa karenamu,
                                                                         Aku kuat karenamu,
                                                                         Aku bijak untukmu,
                                                                         Aku ceria pun untukmu.

                                             Aku ingin kau tak sepertiku,
                                             Aku ingin kau lebih dariku,
                                             Aku harap cita-citamu dapat kau raih,
                                             Aku harap kau rajin berlatih.

                                                                       Jadilah dokter yang sejati,
                                                                       Jangan mengharap pamrih,
                                                                      Agar banyak yang minta diobati,
                                                                      Alhasil berkuranglah perih.

                                            
                                            Jatinangor, 7 Januari 2012
                                            12:45 am
                                            Untuk Adikku Sayang,
                                            Fauzan Ditiaharman (Ucan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar